SWSriwidodoAcademic LegacyBeranda ↗

Jejak Pembimbingan · 2000—Kini

Dari Pangkalan Mimpi
menuju hilirisasi.

Ratusan pertanyaan, empat jenjang, dan satu perjalanan panjang. Setiap karya bimbingan adalah kepingan pengetahuan yang menautkan laboratorium, teknologi, manusia, dan mimpi yang terus bergerak hingga hari ini.

Ikuti perjalanannya Buka arsip karya →

Harta Karun Pembimbingan

Bukan daftar administratif.
Ini adalah perjalanan ilmu.

Setiap skripsi, praktik profesi, tesis, dan disertasi menyimpan keberanian untuk bertanya. Sebagian melahirkan metode. Sebagian memperbaiki formulasi. Sebagian membuka jalan menuju teknologi, publikasi, paten, produk, atau pengabdian.

“Mimpi besar tidak lahir sekaligus. Ia disusun oleh banyak insan, satu eksperimen dan satu keberanian pada satu waktu.”

01 · Empat Jenjang

Empat cara
menumbuhkan ilmu.

Angka ditampilkan sebagai dua himpunan yang berbeda: karya riset S1–S3 dalam inventaris terpadu, serta rekam praktik Profesi Apoteker dalam arsip pembimbingan existing.

S1133Karya riset

Pertanyaan awal, eksperimen, dan keberanian mencoba yang membangun fondasi lintas tema.

Profesi96Jejak praktik

Pengalaman kefarmasian di industri, rumah sakit, apotek, distribusi, dan pemerintahan.

S214Pendalaman

Riset yang memperkuat metode, platform teknologi, pembuktian, dan relevansi translasi.

S38Terobosan

Disertasi yang membuka cabang pengetahuan baru dan menyiapkan pemimpin riset berikutnya.

02 · The Long Arc

Ketika satu pertanyaan
menjadi jalan panjang.

Bab perjalanan disusun dari rumpun karya dalam inventaris, bukan untuk mengklaim urutan tahun yang belum seluruhnya terverifikasi.

01

Formulasi sebagai fondasi

Sediaan topikal, transdermal, kosmetik, dan teknologi tablet melatih ketelitian dalam mengubah bahan menjadi sediaan yang bermutu.

02

Kemandirian bahan baku

Eksipien lokal dan biodiversitas Indonesia menjadi ruang belajar tentang standardisasi, fungsi material, dan kemandirian farmasi.

03

Penghantaran yang lebih cerdas

hEGF, nanopartikel, liposom, microneedle, dan platform lain memperluas pertanyaan dari formulasi menuju efektivitas.

04

Bahan alam menjadi bukti

Fitokimia, bahan aktif, keamanan, dan mutu mempertemukan pengetahuan tradisional dengan disiplin pembuktian ilmiah.

05

Sacha Inchi dan ekosistem

Satu komoditas menghubungkan bahan baku, lipid fungsional, formulasi, petani, industri, produk, dan keberlanjutan.

06

Hilirisasi sebagai kelanjutan

Publikasi, HKI, teknologi, produk, dan dampak bukan garis akhir—melainkan pintu bagi pertanyaan generasi berikutnya.

03 · Arsip Karya Terbuka

Harta karun yang
kembali dapat dibaca.

Bagian ini hanya memuat karya yang sumber, judul, ringkasan, dan hasil utamanya sudah cukup siap untuk kurasi publik. Arsip lain tetap dijaga sambil menjalani verifikasi atau restorasi.

38karya terkurasi ditemukan

01S1Kosmetik & perawatan kulit

Formulasi Sabun Mandi Cair Dengan Lendir Daun Lidah Buaya (Aloe Vera Linn.)

Irni Anggraini

Baca ringkasan & temuan +

Ringkasan

Telah dilakukan penelitian mengenai formulasi sabun mandi cair dengan lendir daun lidah buaya (Aloe vera Linn.) berbagai konsentrasi. Lendir daun lidah buaya memiliki aktivitas untuk melembabkan dan menghaluskan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formula sabun mandi cair dengan berbagai persentase lendir daun Aloe vera sehingga dapat berguna untuk melembabkan dan menghaluskan kulit yang kering. Pengujian kualitas sabun mandi cair yang telah dibuat disesuaikan dengan aturan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang berlaku saat penelitian dilakukan.

Temuan utama

4.1 Kesimpulan Dari hasil penelitian formulasi sabun mandi cair yang mengandung lendir daun lidah buaya dengan konsentrasi 3%, 6%, dan 9% dapat disimpulkan bahwa : Sabun mandi cair dengan lendir daun lidah buaya dengan konsentrasi 3%, 6%, 9% secara organoleptis stabil selama 56 hari penyimpanan, kecuali pH mengalami perubahan.

Catatan pembimbing

Pembimbing : 1. Drs. Boesro Soebagio, MS. | 2. Sriwidodo, S.Si

02S1Sediaan topikal & transdermal

Formulasi Sediaan Masker Bentuk Gel Dengan Sari Daging Buah Semangka (Citrullus Vulgaris Schrad.)

Allamia

Baca ringkasan & temuan +

Ringkasan

Telah dilakukan penelitian mengenai formulasi masker gel dengan sari buah semangka (Citrullus vulgaris Schrad.), untuk melembabkan dan menghaluskan kulit. Penelitian menggunakan dua variasi formula yaitu basis gelatin dan methocel. Pengamatan dilakukan terhadap kestabilan fisika dan kimia sediaan meliputi perubahan-perubahan organoleptis (warna, bau, konsistensi), pH, viskositas, dan waktu kering. Dilakukan juga pengujian efektivitas dan keamanan sediaan selama waktu penyimpanan.

Temuan utama

Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa : 1. Sari buah semangka berbagai konsentrasi (1%, 5%, dan 9%) dapat diformulasikan menjadi suatu sediaan masker gel. 2. Formula masker gel dengan sari buah semangka yang baik, stabil, dapat dikelupas (peel off), dan aman untuk digunakan ditunjukkan oleh formula masker gel basis gelatin berbagai konsentrasi (1%, 5%, dan 9%) dan formula masker gel basis methocel konsentrasi 1%. 3.

Catatan pembimbing

Dosen Pembimbing : Dra. Sri Soeryati H.I. | Sriwidodo, S.Si, Apt.

03S1Sediaan topikal & transdermal

Uji Pelepasan Ketoprofen Dari Sediaan Krim Dengan Basis Hidrofilik Dan Hidrofobik Secara In Vitro

Taufiq Agussalam

Baca ringkasan & temuan +

Ringkasan

Telah dilakukan pengujian pelepasan ketoprofen dari sediaan krim yang dibuat dengan berbagai variasi basis untuk menilai efektivitas krim berdasarkan profil pelepasan obatnya. Krim yang diuji terdiri dari krim dengan basis hidrofilik (formula 1 dan 2) dan basis hidrofobik (Formula 3 dan 4). Pengujian dilakukan secara in vitro, yaitu menggunakan alat disolusi yang diusulkan oleh zuber. Evaluasi sediaan dilakukan dengan cara melakukan. pengujian kestabilan fisik, yang meliputi pengujian organoleptis, pH, dan viskositas sediaan selama 56 hari penyimpanan serta uji keamanan sediaan.

Temuan utama

Berdasarkan profil pelepasan ketoprofen dari setiap formula didapatkan hasil bahwa formula 3 yang menggunakan basis hidrofobik dengan komposisi cera alba 10 %, parafin cair 16%, adaps lanae 5%, asam stearat 3%, trietanolamin 0,5 %, Gliserin 8 % dan air 49 %, mempunyai pelepasan terbaik.

04S1Sediaan topikal & transdermal

Formulasi Krim Piroksikam Dan Profil Pelepasan Zat Berkhasiatnya Secara In-Vitro

Nina Tarita Elsajuva

Baca ringkasan & temuan +

Ringkasan

Telah dilakukan penelitian mengenai formulasi krim piroksikam dan profil pelepasan zat berkhasiatnya secara in-vitro. Dari penelitian diketahui bahwa piroksikam dengan konsentrasi 0,5% sudah dapat mempunyai aktivitas sebagai antiinflamasi karena sudah dapat dilepaskan dari basisnya melalui permeasi perkutan secara in-vitro. Sediaan krim basis m/a dan a/m dengan piroksikam konsentrasi 0,5-1,5% b/b stabil secara fisik, kecuali pH dan viskositas yang mengalami perubahan selama penyimpanan. Pada basis m/a perubahan pH menjadi tidak memenuhi rentang persyaratan sediaan topikal karena terlalu asam, sedangkan pH krim piroksikam basis a/m masih memenuhi persyaratan pH sediaan topikal.

Temuan utama

Kesimpulan Dari hasil penelitian formulasi krim piroksikam dan profil pelepasan zat berkhasiatnya secara in-vitro, dapat ditarik kesimpulan bahwa : Piroksikam adalah suatu senyawa yang bersifat asam, sangat sukar larut dalam air dan berwarna kuning dalam bentuk monohidratnya, sehingga dalam pembuatan krim, piroksikam harus didispersikan dalam minyak mineral, Basis krim tipe emulsi m/a kurang baik digunakan sebagai basis krim dari piroksikam berbagai konsentrasi (0,5, 1 dan 1,5%) karena selama pe

Catatan pembimbing

Pembimbing : 1. Dra. Hj. Sri Soeryati HI | 2. Sriwidodo, Ssi, Apt.

05S1Bahan alam & fitokimia

Pembuatan Gel Basis Carbomer Yang Mengandung Ekstrak Daun Teh Hijau (Camellia Sinensis L.) Dengan Pengujian Efek Antioksidan Secara In Vitro

Pritahayu Ramadhanny

Baca ringkasan & temuan +

Ringkasan

Dalam upaya membuat sediaan gel antioksidan basis carbomer dengan zat berkhasiat ekstrak daun teh hijau (Camellia sinensis L.), telah dilakukan penelitian mengenai penetapan IC50, pengujian efek antioksidan sediaan secara in vitro, uji kestabilan fisik dan uji keamanan dari gel antioksidan yang mengandung ekstrak daun teh hijau (Camellia sinensis L.). Penetapan IC50 ditentukan dengan uji DPPH (1-1-difenil-2-pikril hidrazil) dan stabilitas fisik gel yang mengandung ekstrak daun teh hijau (Camellia sinensis L.) ditentukan berdasarkan pengamatan perubahan bentuk, warna, bau, pH dan viskositas selama 56 hari penyimpanan.

Temuan utama

Dalam upaya membuat sediaan gel antioksidan basis carbomer dengan zat berkhasiat ekstrak daun teh hijau (Camellia sinensis L.), telah dilakukan penelitian mengenai penetapan IC50, pengujian efek antioksidan sediaan secara in vitro, uji kestabilan fisik dan uji keamanan dari gel antioksidan yang mengandung ekstrak daun teh hijau (Camellia sinensis L.). Penetapan IC50 ditentukan dengan uji DPPH (1-1-difenil-2-pikril hidrazil) dan stabilitas fisik gel yang mengandung ekstrak daun teh hijau (Camellia sinensis L.) ditentukan berdasarkan pengamatan perubahan bentuk, warna, bau, pH dan viskositas selama 56 hari penyimpanan.

06S1Sediaan topikal & transdermal

Uji Pelepasan Flukonazol Dari Sediaan Supositoria Dengan Basis Hidrofilik, Basis Lipofilik, Dan Basis Amfifilik Secara Invitro

Ricki Maranata S

Baca ringkasan & temuan +

Ringkasan

Pengujian pelepasan Flukonazol dari sediaan supositoria yang menggunakan basis lemak coklat, basis polietilen glikol, dan basis suposir. Dalam penelitian ini, kelima formula diberikan perlakuan yang sama yaitu disimpan pada suhu 25 oC. Pemeriksaan meliputi pemeriksaan pemerian, keseragaman bobot, kisaran leleh, dan uji pelepasan bahan obat dengan menggunakan metode dayung. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa F4 dengan basis polietilen glikol yang mengandung 50 mg Flukonazol, 70% PEG 4000, 30% PEG 400 menunjukkan profil pelepasan Flukonazol yang paling baik.

Temuan utama

Pemeriksaan meliputi pemeriksaan pemerian, keseragaman bobot, kisaran leleh, dan uji pelepasan bahan obat dengan menggunakan metode dayung. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa F4 dengan basis polietilen glikol yang mengandung 50 mg Flukonazol, 70% PEG 4000, 30% PEG 400 menunjukkan profil pelepasan Flukonazol yang paling baik.

07S1Sediaan topikal & transdermal

Pengaruh Dmso Terhadap Laju Difusi Krim Natrium Diklofenak Dengan Basis Hidrofobik Secara Invitro

Arie Argadya Nuardi

Baca ringkasan & temuan +

Ringkasan

Telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh zat peningkat penetrasi (enhancer) dimetil sulfoksida terhadap laju difusi natrium diklofenak dari sediaan krim. Formula krim natrium diklofenak dibuat tanpa dimetil sulfoksida (F0) dan dengan penambahan dimetil sulfoksida 3%(F1); 6%(F2); dan 9%(F3). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formula krim yang memberikan laju difusi yang baik. Pengujian uji difusi sediaan krim natrium diklofenak secara invitro menggunakan metode Franz Diffusion cell dan diukur menggunakan spektrofotometer.

Temuan utama

Kesimpulan Dari hasil penelitian mengenai pengaruh zat peningkat penetrasi (enhancer) dimetil sulfoksida terhadap uji difusi natrium diklofenak dari sediaan krim, dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu : Sediaan krim natrium diklofenak dapat dibuat dengan penambahan dimetil sulfoksida sebagai zat peningkat penetrasi.

Catatan pembimbing

Pembimbing : 1. Drs. Boesro Soebagio, M.S. | 2. Sriwidodo, Ssi, Apt.

08S1Sediaan topikal & transdermal

Formulasi Krim Pelembut Tumit Dengan Minyak Kacang (Oleum Arachidis)

Septarina Aji Arpianto

Baca ringkasan & temuan +

Ringkasan

Telah dilakukan penelitian mengenai formulasi krim pelembut tumit dengan minyak kacang (Oleum arachidis). Penelitian meliputi pengamatan perubahan-perubahan konsistensi, warna, bau, viskositas, pH, dan efektivitas, serta keamanan sediaan selama waktu penyimpanan. Dari hasil penelitian ternyata secara fisik krim pelembut tumit yang dibuat tidak mengalami perubahan, kecuali viskositas dan pH yang mengalami perubahan selama waktu penyimpanan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sediaan krim a/m dengan minyak kacang (Oleum arachidis) konsentrasi 15%, dan 20% mempunyai aktivitas memperbaiki tumit yang pecah-pecah setelah 35 hari pemakaian dan aman digunakan.

Temuan utama

Kesimpulan Dari hasil penelitian formulasi krim pelembut tumit dengan minyak kacang (Oleum arachidis) berbagai konsentrasi (10%, 15%, 20%) dapat disimpulkan bahwa : Krim pelembut tumit tipe a/m dan m/a dengan minyak kacang (Oleum arachidis) berbagai konsentrasi (10%, 15%, 20%) stabil secara organoleptis, selama 56 hari penyimpanan. Kecuali pH dan viskositasnya yang mengalami perubahan, tetapi masih memenuhi pH untuk sediaan topikal, dan krim masih dapat dioleskan dengan baik.

Catatan pembimbing

Pembimbing : 1. Dra. Sri Soeryati H I. | 2. Sriwidodo, SSi, Apt.

09S1Bahan alam & fitokimia

Formulasi Sediaan Losio Antinyamuk Dengan Minyak Atsiri Selasih (Ocimum Basilicum L.)

Dea Anita Ariani

Baca ringkasan & temuan +

Ringkasan

Tujuan penelitian ini membuat sediaan losio antinyamuk minyak atsiri selasih (Ocimum basilicum L.) yang diketahui efektif sebagai antinyamuk. Konsentrasi minyak atsiri selasih (Ocimum basilicum L.) yang digunakan 2%; 4%; dan 6% b/b. Tipe emulsi yang dibuat adalah tipe minyak dalam air (m/a). Losio stabil selama 28 hari pengamatan, baik pada suhu kamar maupun pada uji dipercepat freeze-thaw. Selanjutnya, dilakukan uji kestabilan fisik, uji keamanan, dan uji efektivitas. Losio antinyamuk yang dihasilkan memiliki tampilan dan kestabilan yang baik serta efektivitas sediaan losio antinyamuk meningkat dengan bertambahnya konsentrasi minyak atsiri selasih (Ocimum basilicum L.

Temuan utama

Selanjutnya, dilakukan uji kestabilan fisik, uji keamanan, dan uji efektivitas. Losio antinyamuk yang dihasilkan memiliki tampilan dan kestabilan yang baik serta efektivitas sediaan losio antinyamuk meningkat dengan bertambahnya konsentrasi minyak atsiri selasih (Ocimum basilicum L.

10S1Bahan alam & fitokimia

Formulasi Selai Lembaran Terung Belanda

Faradila Wijayadi

Baca ringkasan & temuan +

Ringkasan

Penelitian tentang formulasi selai lembaran terung belanda dengan variasi konsentrasi pektin dan bubur buah telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk membuat suatu formula selai dari terung belanda yang memiliki kadar asam yang tinggi ke dalam bentuk lembaran yang lebih praktis untuk dikonsumsi. Formula dengan konsentrasi bubur buah 41,75%, sakarosa 55%, pektin 0,75% dan margarin 2,5% merupakan formula terbaik setelah melalui uji kesukaan.

Temuan utama

Dari hasil formulasi selai lembaran terung belanda maka didapatkan formula dengan konsentrasi bubur buah 41,75%, sakarosa 55%, pektin 0,75% dan margarin 2,5% dengan tingkat konsistensi 2,71 mm/detik/gram, kadar serat kasar 1,57% dan kadar air total sebesar 23,55% sebagai formula terbaik setelah melalui uji kesukaan. Berdasarkan pengujian syarat mutu selai buah SNI 01-3746-1995 yang telah dilakukan dapat dinyatakan selai lembaran terung belanda telah memenuhi persyaratan syarat mutu selai buah.

11S1Bahan alam & fitokimia

Penentuan Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimum (Khtm) Ekstrak Teh Hijau Terhadap Bakteri Penyebab Jerawat.

Vera Sisca

Baca ringkasan & temuan +

Ringkasan

Telah dilakukan penelitian mengenai formulasi sediaan gel antiakne dengan ekstrak daun teh hijau (Camellia sinensis L.Kuntze) berbagai konsentrasi. Teh hijau digunakan sebagai antiakne karena teh hijau banyak mengandung senyawa fenol yang memiliki aktivitas antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh sediaan gel antiakne yang baik, efektif, dan aman untuk digunakan. Karena itu dilakukan penelitian meliputi penelitian kestabilan fisik dan kimia, yaitu pengamatan perubahan warna, bau, konsistensi, pH dan viskositas selama waktu penyimpanan, serta aktivitas antibakteri terhadap bakteri uji Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis.

Temuan utama

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan: Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimum (KHTM) dari ekstrak teh hijau (Camellia sinensis L.Kuntze) terhadap bakteri uji Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis adalah 2 %. Berdasarkan KHTM ekstrak teh hijau tersebut maka diformulasikan sediaan gel yang mengandung tiga konsentrasi ekstrak teh hijau, yaitu 2%, 4%, dan 6%. Formula gel dengan basis Aqupec 1,5% dan konsentrasi ekstrak teh hijau (Camellia sinensis L.

12S1Sediaan topikal & transdermal

Uji Aktivitas Senyawa Eusiderin I Dari Kayu Ulin (Eusideroxylon Zwageri) Terhadap Microsporum Gypseum Dan Candida Albicans Dalam Sediaan Gel

Indah Kartika Sari L

Baca ringkasan & temuan +

Ringkasan

Eusiderin I merupakan senyawa hasil isolasi dari kayu ulin yang memiliki aktivitas antijamur. Telah dilakukan penelitian mengenai uji aktivitas senyawa Eusiderin I dari kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) terhadap Microsporum gypseum dan Candida albicans dalam sediaan gel. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan gel Eusiderin I yang stabil, aman dan berkhasiat antijamur. Dengan menggunakan metode pengenceran agar, diketahui bahwa Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimum (KHTM) dari Eusiderin I terhadap Microsporum gypseum adalah 400 ppm dan terhadap Candida albicans lebih besar dari 500 ppm. Kemudian dibuat sediaan gel antijamur dengan konsentrasi Eusiderin I 0,04%; 0,08%; dan 0,012%.

Temuan utama

Simpulan Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimum (KHTM) senyawa Eusiderin I terhadap jamur Microsporum gypseum adalah 400 ppm dan terhadap Candida albicans lebih besar dari 500 ppm. Sediaan gel basis Aqupec HV-505 dan Viscolam SMC 20 dengan konsentrasi Eusiderin I 0,04%; 0,08%; dan 0,12% memiliki konsistensi, warna dan bau yang stabil, sedangkan pH dan viskositas sediaan tidak stabil selama penyimpanan 91 hari, namun masih memenuhi syarat yang ditentukan.

Catatan pembimbing

Pembimbing : 1. Sriwidodo, S.Si, M.Si, Apt. | 2. Dra. Rr. Sulistiyaningsih, Apt.

04 · Penjagaan Arsip

Yang belum lengkap
tidak akan dikarang.

117 karya masih menunggu verifikasi, ringkasan, kurasi naskah, atau restorasi format. Mereka tetap menjadi bagian penting dari legacy, tetapi detailnya baru akan dibuka setelah sumber cukup kuat.

51 perlu ringkasan atau hasil40 perlu verifikasi22 perlu kurasi naskah4 perlu restorasi format

05 · Jejak Profesi Apoteker

Ilmu diuji
di dunia praktik.

Jejak Profesi dipertahankan sebagai arsip pengalaman praktik, terpisah dari inventaris karya riset agar konteksnya tidak tercampur. Di sanalah pembelajaran bertemu sistem pelayanan, industri, distribusi, regulasi, dan tanggung jawab profesi.

Buka 96 rekam Profesi

06 · From Work to Legacy

Satu karya dapat berakhir sebagai naskah.
Atau memulai generasi berikutnya.

01

Research Genealogy

Lihat kesinambungan tema lintas generasi.

02

Research Roadmap

Hubungkan karya dengan arah riset dan hilirisasi.

03

Technology

Telusuri platform yang tumbuh dari penelitian.

04

Innovation Archive

Ikuti perjalanan menuju produk dan dampak.

05

Pangkalan Mimpi

Kembalikan seluruh jejak ke mimpi berikutnya.

Untuk Para Inovator Muda

Terima kasih telah
menautkan mimpi Anda di sini.

Setiap nama, setiap judul, dan setiap proses adalah bagian dari warisan yang hidup. Karya-karya ini tidak berhenti pada masa lalu; ia menjadi fondasi bagi pertanyaan, teknologi, dan insan yang belum datang.

Bagikan cerita Anda Menuju Pangkalan Mimpi →